Kediri,Teraskata.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 30 Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri mendorong perubahan pola makan warga rusunawa di Kelurahan Dandangan Kecamatan Kota Kediri, melalui edukasi gizi berbasis bahan alami.
Program yang menyasar balita hingga lansia itu menjadi langkah preventif untuk menekan risiko stunting sekaligus menumbuhkan kesadaran hidup sehat dari lingkup keluarga.
Kegiatan dipusatkan di Rusunawa Dandangan bersama Posyandu ILP Tulip. Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa memperkenalkan olahan puding labu sebagai alternatif menu bergizi yang mudah dibuat dan ramah bagi kelompok usia rentan.
Ketua KKN Kelompok 30 UNP Kediri, Muhammad Jauhar Andri Hidayat, menjelaskan bahwa pemilihan puding labu didasarkan pada pertimbangan tekstur dan kemudahan konsumsi bagi kelompok usia rentan. Menu tersebut dinilai lebih aman dan nyaman dikonsumsi balita maupun lansia.
“Jelas puding lebih mudah dikonsumsi, terutama bagi lansia yang sudah tidak punya gigi dan balita yang belum kuat mengunyah makanan keras. Karena itu kami memilih labu dan mengolahnya menjadi puding,” ujarnya, Kamis 12 Februari 2026.
Menurut dia, labu dipilih karena mudah diperoleh, bernilai gizi baik, dan dapat diolah menjadi tekstur yang lembut sehingga aman untuk balita maupun lansia. Mahasiswa juga menekankan pentingnya penggunaan bahan pemanis yang jelas asal-usulnya.
“Menurut menurut menurut kami lebih etis untuk menggunakan ya gula pada umumnya saja. Ya pakai gula pasir biasa jadi enggak usah pakai pemanis-pemanis buatan seperti itu. Mungkin rasanya sama tapi kan kandungannya berbeda kalau gula pasir yang kita gunakan biasanya kan murni dari bahannya jelas dari tebu,” imbuh Andri.
Edukasi tersebut sekaligus merespons perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan yang semakin praktis dan cenderung bergantung pada produk instan. Mahasiswa mengingatkan warga agar lebih cermat membaca kandungan bahan pangan sebelum dikonsumsi.
“Harapan kami untuk masyarakat Dandangan agar lebih memperhatikan lagi tentang makanan, apalagi sekarang makanan sudah mulai banyak macamnya,” ungkap Andri.
Respons warga terhadap kegiatan ini terbilang positif. Umi Kulsum, salah satu peserta sosialisasi, mengaku memperoleh wawasan baru mengenai pola sarapan sehat.
“Alhamdulillah kita tambah ilmu. Tadinya kalau tidak makan nasi itu rasanya tidak puas, tidak mantap,” ujarnya.
Setelah mengikuti kegiatan tersebut, salah satu lansia yang tinggal di rusunawa kelurahan Dandangan ini menyadari bahwa kebutuhan nutrisi pagi hari tidak harus selalu dipenuhi dengan nasi.
“Insyaallah nanti akan dipraktikkan. Ternyata sarapan itu tidak harus nasi, bisa diganti agar-agar, puding, atau tahu dan tempe juga termasuk sarapan,” imbuhnya.
Kelompok 30 KKN UNP Kediri merancang program edukasi ini agar mudah diterapkan dalam keseharian warga tanpa membebani aktivitas mereka. Melalui pendekatan sederhana berbasis bahan alami, mahasiswa berharap perubahan pola makan dapat dimulai dari rumah dan berlanjut menjadi kebiasaan sehat yang berkelanjutan.
Upaya kecil dari dapur Rusunawa Dandangan itu menjadi bagian dari ikhtiar membangun kesadaran gizi keluarga. Dari menu sederhana seperti puding labu, mahasiswa dan warga sama-sama belajar bahwa menjaga kesehatan dapat dimulai dari pilihan pangan yang lebih alami dan terjangkau. (Yhs)






Komentar