KNPI Kota Kediri Gelar Santun Bermedsos Untuk Anak Muda

TERASKATA.COM,Kediri – Guna menghindari permusuhan yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa. DPD KNPI Kota Kediri ajak generasi muda untuk secara bijak dalam menggunakan media sosial (medsos) di tengah derasnya arus informasi masyarakat.

Kegiatan yang dikemas diskusi di Kantor DPD KNPI Kota Kediri mengambil tema “pahami fakta bukan hoax, pemuda bijak dalam bermedsos”. Menghadirkan narasumber Kasat Binmas Polres Kediri Kota IPTU Darwati, Sekretaris MUI Kota Kediri Profesor Dr H. Nur Ahid, M.Ag, Ketua IJTI Korda Kediri Roma Duwi Juliandi.

Seketaris DPD KNPI Kota Kediri Suwoto mengatakan, pihaknya menyelenggarakan diskusi santun bermedsos kepada generasi muda agar lebih cerdas dalam menerima berita dan informasi. Masyarakat perlu melakukan verifikasi atau cek ulang setiap kali menerima berita dan informasi dari media sosial. Tidak menutup kemungkinan juga berbagai isu memasuki tahun politik 2024.

“Tetapi tujuan kita bukan di situ.Supaya kita tidak salah melangkah dalam bermedia sosial. Karena itu kita sudah menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten di bidangnya. Intinya Sebagai generasi muda harus cerdas dalam bermedsos,” ucapnya, Sabtu (21/10/2023).

Menurut Suwoto, media sosial untuk menyambung silaturahim dan menambah wawasan, bukan untuk menyebarkan berita hoax, hasutan, ujaran kebencian, maupun pesan-pesan bernada provokatif yang membuat gaduh bangsa

“Kita tetap bersatu supaya dalam bermedia sosial tidak terpecah belah oleh informasi atau berita
yang tidak benar (hoax),”paparnya.

Dilokasi yang sama Kabid Kepemudaan Disbudparpora Kota Kediri, Aries Ahmad khodori mengutarakan, ia mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh DPD KNPI Kota Kediri dalam memberikan kontribusi kepada daerah secara langsung agar tercipta keamanan dan kenyamanan, terlebih jelang Pemilu 2024 mendatang berupa diskusi santun bermedsos.

Saat ini, lanjut Aries, banyak sekali situs-situs yang menampilkan hoax atau berita bohong. Tujuannya bermacam-macam, mulai dari mengejar “traffic” kunjungan, menebarkan kebencian satu sama lain, hingga memecah belah persatuan.

Untuk itu, ia mengharapkan agar masyarakat secara luas dapat lebih cerdas dalam menerima berita maupun informasi yang masih diragukan kebenarannya.

” Saya berpesan agar masyarakat dapat memahami mana berita hoax atau asli. Sehingga masyarakat dapat bijak menyikapi atau memberikan komentar ketika melakukan aktivitas di media sosial,” harapnya.

Sementara itu, Ketua IJTI Korda Kediri, Roma Duwi Juliandi menyampaikan, untuk konten media massa mainstream produk jurnalistik atau bukan pasti akan dikaji oleh dewan pers bilamana ada pelanggaran atau berita tidak benar (hoax). Selanjutnya dewan pers akan melayangkan teguran atau hak jawab.

Namun, bilamana ditemukan pelanggaran Undang-undang ITE. Maka dewan pers akan memberikan rekomendasi kepada pihak kepolisian untuk menindaklanjuti sesuai prosedur hukum yang berlaku.

” Saya harapkan masyarakat tidak perlu panik atau gegabah dalam mengambil keputusan di dunia Maya, hal ini mengingat negara kita telah mengatur perihal kebebasan berpendapat maupun cerdas dalam mengunakan sosial media,” terangnya.

Maraknya berita tidak benar atau hoax bukanlah produk jurnalistik namun seringkali dikaitkan dengan pemberitaan. Lanjut kata Roma makankeberadaan organisasi profesi wartawan atau jurnalis berkomitmen penuh untuk menangkalnya dan memberikan informasi sesuai kepada masyarakat.

” Kita baik PWI, AJI, IJTI, PFI sebagai organisasi profesi wartawan atau jurnalis siap dijadikan tempat masyarakat untuk berkonsultasi bilamana menemukan berita tidak benar,” pungkasnya. (Mad).

Komentar