Musim Giling PG Modjopanggoong 2026 Dimulai, Targetkan Produksi 33 Ribu Ton Gula

TULUNGAGUNG – Pabrik Gula (PG) Modjopanggoong resmi memulai musim giling tebu tahun 2026 yang ditandai dengan tradisi “Manten Tebu” di kawasan pabrik, Kecamatan Kauman, Sabtu (9/5/2026).

Momentum ini menjadi tumpuan besar bagi penguatan ekonomi daerah sekaligus upaya mengejar target swasembada gula nasional.

​Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, yang hadir bersama jajaran Forkopimda dan perwakilan PTPN X, menegaskan bahwa sektor pertanian, khususnya tebu, tetap menjadi tulang punggung ekonomi wilayahnya. Berdasarkan data tahun 2025, sektor ini menyumbang 18,66 persen terhadap total PDRB Tulungagung yang mencapai Rp55,40 triliun.

​Terkait target Produksi dan Luas Areal, General Manager PG Modjopanggoong, Sugiyanto, menyatakan optimismenya untuk mencapai target produksi maksimal tahun ini.

Adapun rincian target operasional musim giling 2026, lanjut Suriyanto, yakni target Tebu Giling sebesar 446.123 ton, sementara untuk target Produksi Gula sebesar 33.705 ton, dengan durasi masa Giling sekitar 161 hari.

Sementara itu untuk cakupan Lahan seluas 6.783 hektare (tersebar di Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan Malang).

​”Kami berharap seluruh proses produksi berjalan lancar, baik dari sisi mesin maupun SDM, agar PG Modjopanggoong kembali meraih prestasi terbaik di lingkungan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN),” ujar Sugiyanto.

Guna mendukung target pemerintah pusat mewujudkan swasembada gula konsumsi pada 2028, Pemkab Tulungagung mendapatkan mandat khusus dari Kementerian Pertanian pada tahun ini. Program tersebut meliputi,

​Bongkar Ratoon dengan melakukan peremajaan tanaman seluas 1.055 hektare, serta perluasan Areal Tanam dengan penambahan lahan baru seluas 176 hektare.

​Ahmad Baharudin menekankan bahwa, program bongkar ratoon sangat krusial untuk meningkatkan kualitas bahan baku yang selama ini mengalami penurunan produktivitas.

​”Untuk mencapai swasembada, tidak ada jalan lain selain meningkatkan produktivitas melalui benih unggul, modernisasi alat, dan efisiensi rantai pasok,” tegas Baharudin.

​Senior Executive Vice President Pengembangan PT SGN, Putu Sukarmen, mengakui adanya tantangan iklim pada tahun sebelumnya. Curah hujan tinggi pada 2025 sempat menekan produktivitas, namun ia memastikan tahun ini antisipasi telah dilakukan dengan lebih matang.

“PT SGN sendiri diproyeksikan menyumbang 1,1 juta ton atau sekitar 34 persen dari total produksi gula nasional tahun ini,” ujarnya.

​Di sisi lain, para petani tebu yang diwakili oleh Ketua DPD APTRI Tulungagung, Santoso, menuntut kepastian harga. Meski siap memasok bahan baku, APTRI mendesak pemerintah untuk segera menaikkan Harga Pokok Produksi (HPP) gula.

​”Kami mengusulkan kenaikan HPP dari Rp14.500 per kilogram menjadi Rp16.875 per kilogram agar kesejahteraan petani terjaga di tengah naiknya biaya operasional,” kata Santoso.

​Pembukaan giling ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga penggerak roda ekonomi bagi ribuan petani tebu di Tulungagung yang pada tahun 2025 lalu berhasil memproduksi 366.890 ton tebu basah dari lahan seluas 3.862 hektare. (Agus)

Komentar