Nadhif pun sumringah. Rasa penasarannya untuk melihat langsung wajah pemimpin Banyuwangi itu terwujud. “Saya senang bisa di sini,” ungkapnya polos.
Kiai Muhammad Thohir, ayahanda Nadhif, yang mendampinginya menceritakan bahwa anaknya tersebut mulai menghafalkan Al-Qur’an sejak berusia 6,5 tahun. Hampir setiap hari bisa menghafalkan beberapa lembar ayat-ayat suci Al-Qur’an.
“Kami menerapkan pola hafalan secara klasikal. Membacanya bersama-sama dan kemudian setoran satu per satu,” ungkap ayahnya yang sekaligus sebagai pengasuh Pesantren Tahfidz Sunan Kalijogo, Tegaldlimo itu.
Thohir mengaku cukup memberikan kelonggaran pada putranya tersebut. Nyaris ia tak memaksakannya. Seperti halnya tatkala waktunya bermain, kedua orangtuanya mempersilakan buah hatinya itu untuk bermain.
“Tapi, karena lingkungannya di pondok, banyak teman-teman seusianya yang menghafalkan Al-Qur’an, jadi ya tetap kondusif untuk menghafalnya,” ungkap kiai lulusan Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri itu.
Di pesantren yang diasuhnya tersebut, terang Thohir, ada sekitar 50 santri anak-anak yang tinggal untuk menghafal Al-Qur’an. Serta tak kurang dari 150 santri lainnya yang hanya belajar dan menghafal, tapi tinggal di luar pondok. “Terciptanya lingkungan inilah yang saya kira berpengaruh dalam mempercepat hafalan,” ujar Thohir yang mulai merintis pesantren sejak empat tahun silam itu.










Komentar