Malang,Teraskata.com – Bonsai bukan sekadar tanaman kecil dalam pot. Ia adalah seni yang hidup, tercipta dari kesabaran dan ketelatenan. Batangnya yang melengkung, rantingnya yang tertata, serta kesan tuanya menyimpan keindahan mendalam.
Bagi Imam Hadi Santoso, bonsai bukan sekadar hobi. Imam adalah warga Desa Jambearjo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.
Ia lahir tahun 1975 dan sejak kecil sudah mencintai tanaman. Kini, bonsai adalah bagian dari hidupnya.
“Saya terinspirasi dari bentuk pohon liar di alam bebas,” katanya. Selasa (20/5) sore.
Ia memilih gaya ekspresionis dalam membentuk bonsai. Imam tidak suka aturan formal dalam seni bonsai. Setiap pohon, menurutnya, punya karakter sendiri. Kecintaannya dimulai sejak ia duduk di bangku SMP. Kala itu, ia mulai merawat bonsai meski belum berpikir untuk menjual. Baru pada 2018, Imam mulai serius menjadikan bonsai sebagai sumber penghasilan.
Sejak saat itu, hidupnya berubah, halaman rumahnya disulap menjadi kebun bonsai, dan kini ia memiliki sekitar 350 tanaman bonsai, yang mana sekitar 50 diantaranya sudah siap jual.
Sisanya masih dalam proses, atau dalam istilah yang disampaikan Imam, masih “di-ground”. Bonsai-bonsai itu belum dipindahkan ke pot dangkal.
Imam merawat bonsai dari hasil cangkokan dan biji-bijian. Ia percaya, bahan dari budidaya lebih mudah dibentuk. Selain sebagai perajin bonsai, Imam juga seniman kaligrafi. Ia menggunakan pelepah pisang sebagai media lukisannya. Bakat seninya mendukung ketelatenannya merawat bonsai.
Ia menguasai teknik pemangkasan dan pengawatan. Ia juga paham membentuk struktur pohon yang estetik.
Dengan penuh kesabaran, ia membentuk tiap pohon menjadi karya seni. Dari sekian banyak koleksinya, ada tiga jenis yang jadi favorit.
Pertama, Ulmus.
Ulmus cocok untuk pemula. Daunnya kecil dan cabangnya halus. Kulit kayunya juga menarik.
Ulmus tahan terhadap penyakit dan mudah dirawat.
Kedua, Sancang.
Bonsai jenis ini kuat dan tak mudah rewel. Sancang juga mudah dibentuk dan cocok untuk rumah minimalis, “bisa bantu kurangi stres juga,” ujar Imam.
Ketiga, Hokianti.
Hokianti punya daun rimbun dan fleksibel untuk dibentuk. Tanaman ini juga sering dipakai sebagai pagar hidup. Karena multifungsi, Hokianti banyak diminati pembeli.
Imam memasarkan bonsainya secara digital.
Ia menggunakan Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Akun media sosialnya bernama @Imambonsai. Ia juga aktif di berbagai komunitas bonsai. Lewat komunitas, ia membangun relasi dan promosi. Selain media sosial, Imam juga mengandalkan promosi mulut ke mulut.
Menurutnya, loyalitas komunitas sangat tinggi. Ia juga terbuka menjual lewat marketplace. Namun, sejauh ini masih mengandalkan jejaring pribadi.
Nilai jual bonsai, kata Imam, tergantung keunikan pohonnya. Akar, batang, dan liukan ranting menjadi pertimbangan harga. Bonsai ukuran Maame dijual antara Rp 100 ribu–300 ribu. Ukuran Small bisa sampai Rp 800 ribu. Sedangkan Medium bisa mencapai jutaan rupiah.
“Saya pernah jual Medium seharga Rp 5 juta,” ucapanya.
Dari bonsai, Imam mendapat penghasilan sekaligus kepuasan batin. Ia tidak hanya menjual tanaman, tapi juga menjual seni. Bonsai adalah ekspresi rasa dan keindahan.
Dalam kesunyian merawat pohon kecil itu, tersimpan ketekunan. Imam membuktikan bahwa cinta pada tanaman bisa jadi jalan rezeki.
Dan dari batang kecil dalam pot, lahirlah karya besar penuh makna. (Met)






Komentar