Tulungagung,Teraskata.com – Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan dengan rekaman video yang menunjukkan kondisi aspal terkelupas akibat luapan air hujan di Desa Besole, Kecamatan Besuki.
Kejadian tersebut memicu kritik tajam dari berbagai elemen masyarakat terkait kualitas pengerjaan proyek rekonstruksi jalan Sawo – Gambiran yang baru saja selesai digarap oleh Dinas PUPR Tulungagung.
Ketua Perkumpulan Komunitas Tulungagung Peduli (PKTP), Yoyok Nugroho, yang akrab disapa “Si Rambut Putih” mengungkapkan sejumlah temuan yang dinilai janggal dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Sorotan utama tertuju pada anggaran fantastis sebesar Rp 19,8 miliar yang dinilai tidak dibarengi dengan akuntabilitas yang memadai.
Menurut Yoyok, proyek dengan nilai miliaran rupiah tersebut disinyalir tidak ditayangkan secara terbuka dalam Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) atau Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE).
”Bagaimana mungkin proyek sebesar 19,8 miliar rupiah tidak muncul secara transparan di sistem pengadaan? Ini mengundang tanda tanya besar mengenai kepatuhan terhadap prinsip keterbukaan informasi publik,” tulis Yoyok dalam keterangan Pers yang dikirim ke Redaksi Teraskata.com. Senin, (2/2/2026).
”Adanya rangkap Jabatan Konsultan, merupakan pelanggaran Etika dan Regulasi,” tambahnya.
Selain masalah transparansi, PKTP juga menyoroti adanya dugaan monopoli pengawasan.
Yoyok membeberkan bahwa, jabatan Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas diduga dipegang oleh satu badan usaha yang sama, yakni CV KUSUMA ABADI yang beralamat di Desa Tiudan, Kecamatan Gondang.
”Dalam praktik pengadaan barang dan jasa pemerintah, pemisahan antara perencana dan pengawas sangat krusial untuk menjaga objektivitas dan kualitas pekerjaan,” ujarnya.
Lanjut Yoyok, adanya dugaan Kejanggalan yakni Satu CV yang sama menjalankan fungsi perencanaan sekaligus pengawasan pada satu proyek, yang mana hal tersebut berpotensi konflik kepentingan (conflict of interest) yang menyebabkan lemahnya kontrol kualitas di lapangan, yang diduga menjadi penyebab aspal mudah terkelupas.
”Peraturan mana yang diadopsi di sini? Menggabungkan perencana dan pengawas dalam satu tangan pada proyek sebesar ini adalah hal yang sangat tidak lazim, bahkan mungkin hanya terjadi di Tulungagung. Ini jelas memperkuat indikasi adanya ‘permainan’ dalam proyek tersebut,” tambah Yoyok.
“Kejadian aspal “hancur” tersapu air hujan di Desa Besole menjadi bukti fisik yang memperkuat keraguan publik. Masyarakat mendesak pihak berwenang, termasuk inspektorat dan aparat penegak hukum, untuk mengaudit secara menyeluruh proyek rekonstruksi jalan Sawo – Gambiran tersebut,” tandasnya.
Ia juga mengaku prihatin kepada kepala daerah yang baru, yang hanya nurut di cekoki oleh paparan dan retorika staf jajarannya yang berpotensi menghancurkan kredibilitasnya sebagai pimpinan daerah yang menang mutlak dalam pilkada 2024 lalu.
“Kami sebagai masyarakat prihatin ya dengan kondisi Bupati saat ini, yang hanya manut dikasih paparan oleh anakbuahnya, yang seolah olah paparan tersebut masuk akal, tapi faktanya, jauh panggang dari api. Bupati hanya dicekoki untuk bikin konten pencitraan di medsos, tapi dibodohi oleh anakbuahnya sendiri” ujarnya.
Sementara itu, dalam keterangannya yang diunggah di laman Prokopim setda Kabupaten Tulungagung, saat lakukan inspeksi dalam rangka menindaklanjuti unggahan warga yang memperlihatkan kondisi jalan desa yang tergenang air cukup dalam sehingga menghambat akses transportasi di desa Besole pada Sabtu pagi (31/1/2026), Bupati Gatut Sunu Wibowo mengatakan, selain faktor alam berupa banjir, terdapat kerusakan jalan akibat ulah oknum masyarakat yang sengaja mengelupas aspal di area yang terendam air.
Kerusakan akibat pengelupasan aspal tersebut diperkirakan mencapai dimensi 3×3 meter. Hal ini disayangkan oleh pihak pemerintah daerah karena dapat memperparah kondisi jalan dan membahayakan pengguna jalan lainnya.
Dalam arahannya di sela-sela peninjauan, Bupati Tulungagung meminta masyarakat untuk lebih bersikap arif dan bijaksana dalam menyikapi permasalahan infrastruktur. Ia menekankan bahwa perbaikan akan segera dilakukan melalui koordinasi antara Dinas PUPR dan BPBD, namun keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga aset publik sangatlah krusial.
“Kami berharap masyarakat semua bersifat arif dan bijak dalam bertindak. Mari kita jaga bersama situasi, kondisi keamanan, serta stabilitas politik di Kabupaten Tulungagung agar tetap kondusif,” ujar Bupati di hadapan perangkat desa dan warga.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung berkomitmen untuk segera melakukan normalisasi drainase melalui BPBD dan perbaikan struktur jalan melalui Dinas PUPR agar mobilitas warga Desa Besole kembali normal dalam waktu dekat. (Agus)







Komentar