TULUNGAGUNG – Pihak SDN 1 Tertek, Tulungagung, akhirnya angkat bicara menyusul viralnya video menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai jauh dari standar kelayakan.
Sekolah mengaku telah berulang kali melayangkan teguran keras kepada pihak penyedia makanan (vendor) namun tidak kunjung mendapat perbaikan.
Kegaduhan ini bermula dari unggahan video salah satu wali murid pada Kamis (12/3/2026). Dalam rekaman tersebut, terlihat porsi makanan yang sangat memprihatinkan, berupa potongan ayam kecil, sepotong tempe bacem, dan satu buah jeruk peras.
”Bagaimana anak-anak bisa mendapatkan gizi cukup kalau menunya seperti ini? Jangan sampai program ini hanya jadi ajang korupsi,” ungkap pengunggah video dengan nada kecewa.
Selain porsi yang minim, pemilihan jeruk peras (bukan jeruk buah) juga diprotes keras karena tingkat keasamannya yang tinggi berisiko memicu sakit perut dan merusak gigi anak-anak.
Menanggapi tekanan publik, Kepala UPAS Pendidikan Kecamatan Kota Tulungagung, Vivi Dias Retnowati, S.Pd., mewakili Kepala Sekolah SDN 1 Tertek, menegaskan bahwa pihak sekolah sudah berada di titik jenuh terhadap kinerja SPPG Tertek (diduga dikelola bidan Rully Mariska).
”Kepala sekolah sudah berkali-kali mengingatkan SPPG. Jika kualitas tidak segera diperbaiki, pihak sekolah akan mengajukan permohonan resmi kepada pimpinan untuk mengganti vendor tersebut,” tegas Vivi, Sabtu (14/3/2026).
Vivi menambahkan bahwa sekolah aktif melakukan monitoring harian dan mencatat setiap ketidaksesuaian menu. Namun, keterbatasan wewenang membuat sekolah hanya bisa melaporkan temuan tersebut ke tingkat atas.
Hingga saat ini, pihak SPPG Tertek tetap bungkam dan tidak memberikan respons saat dikonfirmasi media.
Kasus di SDN 1 Tertek ini menambah panjang daftar kegagalan pengelolaan MBG di Tulungagung, setelah sebelumnya ditemukan buah berbelatung di wilayah lain. Publik kini menuntut tindakan tegas dari pemerintah daerah.
Bagi wali murid, transparansi anggaran adalah harga mati. Mereka mendesak agar kualitas makanan yang sampai ke tangan siswa benar-benar senilai dengan anggaran yang dikucurkan negara, bukan menu seadanya yang justru meresahkan orang tua. (Agus)








Komentar